RSS

My Kingdom (Behind The Scene)

27 Apr

“Aku lebih suka merayakannya berdua denganmu.”

~My Kingdom (Behind The Scene) ~

Disclaimer: All cast in here isn’t my own.

By Himawari Ichinomiya

Inspired: Orange Caramel-Shanghai Romance.

Rated M

Gendre: Romance, Drama.

Summary: Whu Zun dan Hangeng adalah kakak beradik dalam memerankan tokoh di My Kingdom. Tapi, bagaimana keadaannya jika dibalik layar?

Pairing:Whu ZunXHangeng

Warning: Fic ini mengandung unsur YAOI, banyak typo, OOC, NC-21 dan hal-hal tidak jelas lainnya. Jika memang tidak suka, silahkan meninggalkan fic ini, sebelum ada niat memberikan flame pada Hima. Kalau ada yang nge-flame, berarti flamer itu nggak bisa baca.

.

~Dun like? Dun read!~

Tetap nekad baca?

Gak nanggung kalo jadi fujoshi ato fudanshi nantinya.

.

~Happy Reading!!~

.

\(o_o\)o0o(/o_o)/

“Er Khui, dengan begini semuanya selesai.” Whu Zun tersenyum, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Hangeng.

CUT!! Good job!” ujar sang sutradara, seluruh Kru dan actor bertepuk tangan, karena Hangeng dan Whu Zun telah menutup syuting cerita My Kingdom dengan acting mereka yang apik juga menjiwai.

Ya, saat ini meleka sudah selesai melakukan scene terakhir My Kingdom dengan gemilang. Syuting selama berbulan-bulan yang begitu berat kini sudah terbayar lunas dengan selesainya film ini, tinggal meng-edit dan melakukan beberapa perubahan, maka film ini sudah siap beredar di pasaran.

Hangeng tersenyum kalem melihat seluruh Kru yang dilewatinya menuju ruang ganti memuji acting gemilangnya. Dirinya cukup senang atas pengalaman pertamanya melakukan acting di film layar lebar, mengingat sebenarnya dirinya berada di bidang tarik suara.

Hangeng melepas pakaiannya, dan menggantinya dengan pakaian yang lebih kasual dan santai. Namja kelahiran China itu terus tersenyum, mengingat film action pertamanya ini akan segera diterbitkan di pasaran.

“Kenapa kau tersenyum begitu?” ujar suara pemuda yang beberapa tahun lebih tua darinya itu memeluk Hangeng dari belakang, wajahnya yang tampan ditenggelamkannya dalam ceruk leher Hangeng.

Ex-Super Junior tersebut terkekeh kecil, “Tidak, hanya saja, aku senang syuting ini sudah selesai.” Dirinya merasa nyaman dipeluk lembut begini oleh Wu Zun dari belakang.

Mendengar itu, Wu Zun malah kesal, menarik tangan Hangeng, membuat pemuda keturunan China itu menatap Wu Zun lurus. “Apa kau senang tidak bertemu denganku lagi setelah syuting film ini berakhir?”

Hangeng tersenyum menenangkan, “Menyelesaikan syuting dan tidak bertemu denganmu lagi, itu adalah dua hal yang berbeda, gege.” Ujarnya menjelaskan.

Wu Zun menampakkan wajah cemberutnya yang kekanak-kanakan. “Jangan panggil aku dengan sebutan ‘gege’.” Ujarnya kesal. Jujur saja, sebenarnya Wu Zun sedikit risih saat Hangeng memanggilnya ‘gege’ (sebutan untuk kakak laki-laki). Memang sebetulnya hal ini wajar saja, karena di film, Hangeng berperan sebagai adik Wu Zun.

“Kenapa?”

“Karena, jika aku adalah kakakmu, aku tidak akan pernah bisa menjadi kekasihmu.” Ujarnya sambil mencium singkat bibir Hangeng.

Ya, Hangeng dan Wu Zun adalah sepasang kekasih sejak beberapa bulan yang lalu. Awalnya mereka bersikap layaknya senior dan juniornya, mengingat pengalaman Wu Zun jauh lebih banyak dalam bidang beradu acting dibadingkan Hangeng. Jadi dirinya membantu segala hal yang membuat namja yang lebih muda darinya itu merasa kesulitan.

Namun, semakin lama perasaan Wu Zun berubah. Apalagi saat Hangeng melakukan adegan mesra dengan Barbie Xu. Dirinya tidak bisa berhenti menggemelatukkan giginya kesal saat itu. Bukan, bukan karena Wu Zun menyukai Barbie Xu, melainkan karena dirinya merasa tertarik pada Hangeng. Akhirnya, setelah itu Wu Zun mengungkapkan perasaannya. Dan untunglah Hangeng menerimanya.

Hangeng hanya tersenyum saja membalas tatapan sayang Wu Zun dan sikapnya yang terkadang cukup lucu bagi si namja kelahiran China. Pemuda kelahiran Brunei Darusalam itu memeluk Hangeng posessif. “Berjanjilah kau akan terus menghubungiku setelah ini.” Lanjutnya lagi.

Hangeng membalas pelukan Wu Zun, “Ya, aku janji.”

Wu Zun tersenyum lembut, kembali mencium bibir Hangeng lembut. “Aku mencintaimu…” gumam pemuda kelahiran Brunei itu pelan di depan telinga Hangeng.

“Aku tahu itu…” balasnya sambil tersenyum. Wu Zun sedikit kecewa, karena Hangeng tidak mengatakan, ‘Aku mencintaimu juga.’ Padanya.

Kreek!

“Woow!”

Hangeng dan Wu Zun menoleh pada sumber suara yang mengintrupsi kegiatan ‘Loveley Dovey’ keduanya. Namja berumur tiga puluh satu tahun itu berdecak kesal, “Bisakah kau tidak mengganggu kami, Barbie Xu?”

Wanita cantik itu terkekeh geli, “Tidak perlu malu. Aku ‘kan sudah tahu hubungan kalian sejak awal.” Ujarnya melihat Hangeng menundukkan wajahnya. Tentu saja, mengingat Barbie Xu merupakan salah satu aktris yang lebih dulu terjun dibandingkan dirinya, maka Hangeng harus bersikap lebih sopan.

Wu Zun berdecih, “Aku bukan malu, tapi risih jika kau terus di sini.”

Hangeng menyikut perut kekasihnya itu pelan atas jawabannya yang tidak sopan, dan membungkuk untuk mewakili Wu Zun meminta maaf pada Barbie Xu. Sedangkan si pelaku Cuma cemberut sebal karena sikap Hangeng yang kelewat gentleman. Jangan-jangan kekasihnya itu sudah ketularan sahabatnya yang bernama Choi Siwon saat di Super Junior dua tahun yang lalu…

Sebenarnya, Wu Zun tidak begitu suka dengan Barbie Xu, karena perannya yang bermesraan dengan Hangeng di film mereka ini. Anak dari pengusaha terkaya di Brunei Darusalam ini kembali menatap lawan main kekasihnya itu, “Apa tujuanmu kemari? Kalau kau ingin mengajak Han pergi, kau tidak akan pernah mendapat jawaban ‘ya’!” ujarnya ketus.

Wanita berparas cantik itu tersenyum, “Separuh dari ucapanmu benar. Aku memang mengajak Hangeng pergi…” ucapnya kalem, dan mendapat respon tatapan tajam dari Wu Zun. Mantan pemeran San Chai di serial ‘Meteor Garden’ tersebut terkekeh. Dirinya memang senang sekali melihat reaksi Wu Zun yang berlebihan saat dirinya mendekati Hangeng. “Aku Cuma bercanda. Aku disuruh produser untuk mengajak kau juga Hangeng merayakan selesainya film ‘My Kingdom’ ini dengan minum-minum di bar hotel Shangri La. Hitung-hitung mempererat kerja sama kita di masa yang akan datang.” Lanjutnya menjelaskan.

Wu Zun Cuma memutar mata malas, “Kalau Cuma itu yang ingin kau sampaikan, kau bisa pergi.” Dan karena mengatakan hal itu, lagi-lagi Wu Zun mendapatkan pukulan pelan dari Hangeng.

Hangeng mencoba tersenyum, “Terimakasih, kami pasti datang…” jawabnya sopan.

Barbie Xu mengangguk, “Baiklah, aku dan kru lainnya akan menunggu kalian berdua di hotel itu jam delapan malam.” Ujarnya lalu beranjak pergi.

Setelah sosok lawan main wanitanya itu pergi, Hangeng menoleh menatap Wu Zun, “Kita pasti pergi ke sana, ‘kan?” ujarnya memastikan.

Wu Zun teridiam sejenak nampak berpikir-pikir,  sesekali wajahnya yang tampan menatap Hangeng yang menunjukan tatapan ‘kita-pergi-saja-ke-sana’. Namun beberapa saat kemudian Wu Zun menampakkan senyum jahil, “Baiklah kita jadi pergi menemui mereka nanti malam.” Jawabnya, dan mendapat balasan berupa senyuman manis dan ciuman singkat di pipinya oleh Hangeng.

.

.

.

Malam di kota besar China seperti Shanghai tidak akan pernah sepi. Banyak bar, diskotik, klub malam, hotel, mall dan tempat hiburan lainnya yang masih terbuka untuk para penghuni kota yang ingin bersenang-senang.

Wu Zun sedang terduduk rapi di dalam limosin berwarna hitam yang baru saja dibelinya khusus untuk syuting My Kingdom kali ini. Pemuda anak dari pengusaha terkaya di Brunei Darusalam itu mengenakan sebuah texuedo berwarna putih, dengan dasi kupu-kupu hitam yang rapi melilit lehernya, makin memperjelas rahangnya yang tegas, dan lehernya yang jenjang.

Saat ini dirinya sedang menjemput Hangeng dari hotel Sheraton, menuju hotel Shangrila untuk pesta perayaan keberhasilan keduanya menyelesaikan film my kingdom.

Sepuluh menit menunggu, Wu Zun menangkap sosok Hageng yang mengenakan jas hitam lengkap dengan topi yang dipakai miring, seperti stylenya dalam film My Kingdom. Wu Zun tersenyum menatap sosok kekasihnya itu, memang tidak salah dirinya memilih Hangeng untuk dijadikan kekasih.

Selama perjalanan, Hangeng hanya terdiam menatap hiruk-pikuk kota Shanghai. Sesekali dirinya melirik Wu Zun yang sibuk menelpon dengan pandangan sebal. Jujur saja, pemuda mantan anggota super junior tersebut merasa diacuhkan dan kesal.

Lima belas menit kemudian, mereka sampai pada sebuah gedung tinggi yang biasa disebut Hotel SangRiLa. Wu Zun membukakan pintu limosinnya untuk Hangeng, membuat pemuda berdarah china asli itu tersenyum dan melupakan kekesalannya di perjalanan tadi.

Wu Zun menggandeng tangan Hangeng, dan menariknya lembut memasuki hotel. Hangeng tidak begitu mengerti, namun Wu Zun tidak membawanya ke bagian café, pria kelahiran Brunei itu malah membawanya ke salah satu kamar Hotel tentu saja yag memiliki kategori klas satu.

Sebuah kamar berukuran super besar, dilengkapi dengan kasur berukuran ekstra besar, dan pencahayaan yang remang-remang.

“Wu Zun?” Hangeng menatap kekasihnya itu dengan pandangan bingung.

“Hmm…?” Wu Zun memeluk pemuda kelahiran China itu dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Hangeng.

“Kenapa kita malah ke kamar kosong ini?”

“Apa kau tidak suka?” tanyanya masih dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hangeng, membuat nafasnya jadi menerpa leher putih Hangeng yang terekspose jelas itu.

“Bukannya begitu, hanya saja. Kenapa kita malah berada di sini? Bukannya kita harusnya berada di café untuk minum-minum dengan produser dan kru lainnya?”

“Aku lebih suka merayakannya berdua denganmu saja.”  Ucap Wu Zun lembut di telinga Hageng, membuatya merinding karea sensasi dingin yang menerpa tengkuknya.

Wu Zun membalikkan tubuh Hangeng, membuat mereka berhadapan. Membawa pemuda lebih pendek beberapa senti darinya ke dalam ciuman lembut. Wu Zun menggesek-gesekkan permukaan bibirnya dengan milik Hangeng, kemudian menjilat-jilat permukaan bibir Hangeng pelan. Hangeng sendiri belum berani memberikan respon, yang bisa dilakukannya Cuma menggenggam bagian belakang tuxedo Wu Zun, membuatnya kusut.

Wu Zun mendorong Hangeng pelan, membuat keduanya berjalan semakin mendekat dengan ranjang tanpa harus melepas ciuman yang semakin lama semakin ganas itu.

“Mmnn…. Hhhh…” desah Hangeng pelan, tangannya makin bergerak meremas dan mengacak rambut Wu Zun. Wu Zun membaringkan tubuh Hangeng pelan-pelan ke atas ranjang, membuat pemuda China itu tertindih di bawah tubuhnya.

Pasokan oksigen yang makin menipis membuat keduanya tepaksa saling menjauhkan bibir masing-masing untuk menarik napas.

“Hhhh… Wu… Zun… Hhh…” Napas Hangeng masih memburu, matanya separuh tertutup, menatap Wu Zun yang hanya tersenyum kecil melihat dirinya yang terengah-engah.

“Aku mencintaimu.” Ucapnya sambil menciumi pundak Hangeng. “Aku mencintaimu.” Gumam Wu Zun lagi, menciumi leher Hangeng. Wu Zun terus menggumamkan kata-kata yang sama berkali-kali, saat mengecup kelopak mata Hangeng lembut, hidungnya yang mancung, dan rambutnya yang sekarang jadi sedikit acak-acakan.

Hangeng tersenyum senang mendengar perkataan Wu Zun untuknya, tangannya melingkar di leher Wu Zun, memperdalam ciuman keduanya.

Di sisi lain Wu Zun merasa kecewa, karena lagi-lagi Hanngeng tidak membalas ucapannya dengan, ‘aku mencintaimu juga’. Namun, rasa kecewanya sedikit teralihkan oleh tubuh Hangeng yang kini terexpose jelas di depan matanya.

Tubuh kecoklatan Hangeng terlihat begitu menggairahkan di bawah sinar temaram lampu kamar. Badannya terlihat langsing, pinggangnya kecil hingga membentuk kurva, dan tubuhnya begitu mulus tak bercacat. Namun, mata Wu Zun terpaku pada satu bekas luka sayatan yang terdapat di pundak Hangeng.

“Apa ini bekas saat kita adegan bertarung di film? Saat aku melukaimu itu?” ujarnya sedih, sambil menyentuh pundak Hangeng yang memiliki bekas luka. Hangeng tersenyum, melihat tatapan mata Wu Zun yang seakan ikut bisa merasakan rasa sakitnya saat itu. Wu Zun membelai pundak Hangeng, dan mengecup bekas lukanya lembut, “Sakit ‘kah? Aku sangat menyesal sudah melukaimu saat itu.”

Hangeng tersenyum haru, tangannya menggapai wajah Wu Zun  yag terlihat sedih, jemarinya membelai bibir lembut sang kekasih. “Ini ‘kan Cuma gara-gara adegan film, tidak sakit lagi ‘kok…”

Wu Zun tersenyum lemah, kemudian menjilat pundak telanjang Hangeng.

“Ngggh…” desah Hangeng pelan, “A-apa yang kau lakukan? Nggghh… Uuh..”

“Mhh… (jilat) Menghilangkan (jilat) rasa sakitmu…” ujarnya sambil terus menjilat, terkadang memberikan hisapan kecil pada bekas luka Hangeng yang masih sedikit terlihat memerah.

“Ha-agh… hhh…” Hangeng mendesah, tangannya mengacak-acak rambut Wu Zun dengan perasaan tidak sabar. Mengerti maksud dari kekasinya, tangan Wu Zun bergerak, ibu jarinya memilin-milin nipple Hangeng, membuat bulatan pink itu menegang.

Wu Zun merasa dirinya semakin menegang, cepat-cepat dilepaskannya seluruh kain yang melekat di tubuhnya serta Hangeng. Pemuda asli keturunan China itu memejamkan matanya, saat tangan sang kekasih turun menuju bagian bawahnya. Membelai pangkal pahanya, semakin keatas semakin mendekati kejantanannya.

Namun, yang membuat Hangeng terkejut adalah Wu Zun malah tidak menyentuh kejantanannya, melainkan hanya bermain dengan twin balls-nya, mengocoknya dengan gerakan sensual dan menggoda.

“Haaaggh…. Uhh…” Hangeng memejamkan matanya, kejantanannya semakin menegang, meskipun Wu Zun sama sekali belum menyentuhnya. Tubuhnya bereaksi sangat cepat, dan menginginkan sentuhan lebih jauh dari sang kekasih. “UUnngghh… Wu Zun, hhh… Sentuh… Ukkh…” ujarnya di sela desahan.

“Hmm? Aku sudah menyentuhmu…” ujar Wu Zun menggoda, tangannya sama sekali tidak bergerak mendekat menuju kejantanan Hangeng. Pemuda kelahiran Brunei Darusalam itu malah menjulurkan lidahnya, menjilat twin balls Hangeng. Kejantanan pemuda China itu mulai mengucurkan pre-cum bening. Wu Zun tersenyum, melihat betapa sensitifnya tubuh Hangeng, meskipun dirinya sama sekali belum menyentuh pusat tubuh tersensitif  sang kekasih.

Beberapa menit kemudian, Hangeng mendesah tertahan, saat kejantanannya menyemburkan cairan putih kental yang membasahi perutnya dan wajah Wu Zun yang saat itu belum berhenti mengemut twin balls-nya.

“Hm? Sudah keluar? Padahal aku belum menyentuh milikmu…” ucapnya dengan evil smirk. Hangeng hanya menatapnya dengan nafas terengah-engah dan kejantanan yang masih sedikit menegang. Tidak disangkanya, Wu Zun yang begitu over protectif dan manja padanya, jadi begitu mendominasi dan suka menggoda ketika di atas ranjang.

Hangeng menahan napasnya saat mulut Wu zun kini bergerak menuju kejantanannya, kemudian mengulumnya intens.

‘Akhirnya!’ batin Hankyung tidak sabar.

Wu Zun menggerakkan mulutnya naik-turun, menciptakan bunyi ‘plop’ sesekali saat membuat kejantanan Hangeng keluar dari mulutnya, kemudian dengan cepat memasukkan lagi titik tubuh tersensitif kekasihnya tersebut ke dalam rongga mulutnya.

Tangannya tidak menganggur, jemarinya bergerak menuju bawah, yaitu lubang Hangeng. Menyelipkan satu jari ke dalam lubang sempit yang belum pernah terjamah sebelumnya itu.

“A-aakhhhh….. Uuuh…” Hangeng merasakan tubuh bagian bawahnya terasa aneh, namun hal itu bukan merupakan rasa sakit, jadi Hangeng tidak perotes sama sekali. Melihat reaksi dari sang kekasih, Wu Zun kembali memasukkan kedua jarinya dan menggerakkannya keluar masuk dalam lubang Hangeng.

Wu Zun bisa merasakan otot-otot Hangeng meremas jemarinya lembut, dan lubang itu juga tidak kunjung melebar. “Ooooh!! Aggghh….Hhhh…”

Aktor asal Brunei Darusalam tersebut makin ereksi ketika membayangkan jika miliknya nanti juga akan memasuki lubang sempit dan hangat yang kini sedang dimasukinya dengan tiga buah jari. Setelah menahan diri dengan cukup lama, dan berusaha merenggangkan otot-otot Hangeng, Wu Zun segera mengeluarkan jemarinya, mengecup puncak kepala si pemuda China, agar dapat rileks, mengingat ‘hal ini’ merupakan yag pertama baginya, dan Wu Zun cukup bangga, karena dirinya lah orang pertama yang akan meng’klaim’ Hangeng sebagai miliknya.

Hangeng menitikkan air mata dari sudut permata cokelatnya, Wu Zun tersenyum menenangkan, mengusap bulir-bulir air mata tersebut dengan ujung jarinya. Wu Zun memainkan jari-jarinya untuk memilin nipples Hangeng, berusaha mengalihkan rasa sakitnya.

“Bergeraklah…” ujar Hangeng pelan, saat dirinya sudah merasa terbiasa dengan kehadiran milik sang kekasih di dalam tubuhnya. Wu Zun  tersenyum lembut, tangannya bergerak menuju milik Hangeng, kemudian mengocoknya pelan sesuai tempo tusukkannya yang pelan, berusaha tidak mennyakiti sang kekasih.

“Nggh… Fa-faster… Hhh..” desahnnya dengan mata separuh terpejam dan afas yang terengah-engah. Seperti mendapat izin, Wu Zun langsung mempercepat tempo gerakkannya, membuat Hangeng makin mengeluarkan desahan keras.

“Aggh… you’re so tight, baby… hhh…” Wu Zun mengerang, tangannya bergerak meraih kaki Hangeng meletakkan di pundaknya agar bisa ‘menusukkan’ miliknya lebih dalam lagi.

Milik Wu Zun yang memang ukurannya di atas rata-rata, dengan cepat menemukan titik tersensitif di dalam lubangnya. “Akkhhh!!! Ahhhnnn!!” jerit Hangeng yang megidentifikasikan bahwa titik yang barusaja di tumbuk oleh milik Wu Zun adalah titik tersensitifnya.

Wu Zun menumbuk titik itu berkali-kali dan dengan tempo yang cepat, membuat Hangeng diterpa kenikmatan bertubi-tubi.

“Wu… hhh… Zun, ma-mau keluar… ggghhh…”

Namun, kata-kata Hangeng tersebut malah membuat Wu Zun menghentikan gerakkannya, Hangeng menatap Wu Zun dengan pandangan bingung sekaligus meminta penjelasan. Wu Zun tertawa kecil melihat pandangan kecewa Hangeng yang menurutnya terlihat lucu.

“Kau harus bersabar, Sweet heart…” Gumam Wu Zun lembut, sambil menjilat daun telinga Hangeng dengan gerakan seduktif.

“Nnggghh…. MMmmm…”  Hangeng mendesah halus, sentuhan kecil dari Wu Zun membuatnya mabuk kepayang, kejantanannya mengeluarkan cairan lengket pre-cum. Wu Zun tersenyum melihat reaksi tuuh Hangeng yang sangat sensitive.

Tangannya bergerak mengangkat tubuh Hangeng yang memang ramping menurut ukuran lelaki. Wu Zun membantu Hangeng berdiri menghadap jendela hotel. Mengingat kamar yang mereka tempati berada di lantai sebelas, dengan jelas Hangeng dapat melihat pemandangan kota Beijing yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu malam. Wu Zun memeluk Hangeng dari belakang, mengistirahatkan kepalanya di pundak Hangeng. “Kau suka?” tanyanya, pada pemuda kelahira Chia itu.

Hangeng mengangguk, “Kau menyiapkan semua ini?” tanyanya senang, atas perhatian Wu Zun untuknya. Kali ini giliran Wu Zun yang megagguk, kemudian mecium lembut leher Hangeng, membuatnya memejamkan mata karena sensasi geli di leherya.

Wu Zun bersyukur karena jendela hotel mereka hanya dapat menunjukan separuh bagian tubuh sang kekasih, karena jelas Wu Zun tidak akan rela kekasihnya itu terexpose seluruh tubuhnya di depan jendela, mengingat mereka berdua kini masih telanjang bulat.

Wu Zun melingkarkan tangannya di pinggang Hangeng yang sedikit lebih kecil darinya, menghirup aroma khas sang kekasih yang selalu bisa membuatnya lepas kendali. Wu Zun menempelkan tubuhnya lebih erat dengan tubuh Hangeng, membuat kejatanan Wu Zun masuk di antara belahan pantat Hangeng. “Mmmmnn…” desah Hangeng halus, membuat hasrat sang kekasih makin naik.

Wu Zun menggerakkan tagannya yang melingkar di pinggang Hangeng, maju meuju kejantanan sang namja China, mengocoknya perlahan, sedangkan tangan yang satunya berkerja memijat ‘pintu masuk’ anal  Hangeng.

“Nnggh…. Mmmm… Ra-rasanya aneh… hhh…” desah Hangeng, bayangkan saja, tubuh telanjangnya tertepa angin malam, sedangkan tangan kekasihnya memajakan kejantanannya dan pintu analnya.

“Ahk!! Ah!!” Desah Hangeng, karena tiba-tiba Wu Zun kembali memasukkan kejantanannya ke dalam lubang Hangeng, membuat si namja China harus berpegangan erat pada jendela. Wu Zun menggerakkan pinggulnya maju-mundur, satu tangannya memegang pinggul Hangeng, agar dapat memasukkan miliknya lebih jauh ke dalam lubang si mantan lead dancer Super Junior tersebut, sedangkan tangannya yang satu lagi bergerak memilin puting Hangeng, membuatnya semakin ereksi.

“Mmm… Fa-faster…. Hhh… Please…” ujar Hangeng dengan mata separuh terpejam, kejantanan si namja China tidak bisa berhenti mengucurkan pre-cum, seperti air seni.

Tanpa perlu disuruh dua kali, Wu Zun mempercepat tempo tusukkannya, membuat Hangeng makin memegang ujung jendela hotel agar tidak jatuh. Kakinya terasa lemas dan lumer. Mata Hangeng menatap pemandangan malam kota Beijing sambil merasakan kenikmatan tiada tara, karena sang kekasih terus meggerakkan kejantanannya dengan cepat.

“Mmmm…. Nggg… Hhhhh.. Mauu, keluar… hhh…” desah Hangeng, sambil terus memejamkan matanya, merasakan tusukan Wu Zun yang semakin lama semakin cepat saja. “Ngg?!!” Dahi Hangeng berkerut bingung.

Lagi-lagi, kata-kata itu membuat Wu Zun menghentikan gerakannya, menahan sang kekasih agar tidak orgasme, dan dibalas dengan erangan frustasi dari si pemuda China di hadapannya. Wu Zun tersenyum karena geli, sekaligus senang karena bisa menggoda sang kekasih. Namun tentu saja hal ini justru membuat Hangeng makin kesal.

Wu Zun yang mengerti arti tatapan kesal dari sang kekasih Cuma tersenyum jenaka, “Satu kali, lagi… Oke?” ucapnya.

Wu Zun menarik sebuah kursi, dan meletakkannya tepat di sebelah jendela, mengambil telpon genggamnya, kemudian mengeluarkan miliknya dari dalam lubang Hangeng. “Nggg….” Desah Hangeng sedikit kesakitan karena lubangnya sudah dimasuki oleh Wu Zun beberapa kali dalam satu waktu.

Hangeng hanya menatap Wu Zun bingung, karena sang kekasih kini malah sibuk menelpon seseorang entah siapa. Lima menit setelahnya, si pemuda kelahiran Brunei itu baru menghentikan pembicaraannnya di telpon, dan menarik tangan Hangeng agar dirinya lebih mendekat.

Hangeng berjalan mendekat, Wu Zun menariknya cepat, sehingga si pemuda china tersebut terduduk di atas pangkuan Wu Zun. Tentu saja dengan kejantanan sang kekasih yang langsung kembali menyeruak masuk di dalam lubangnya. “Ungg!!! Ahk!!”

“Nggg…” Wu Zun ikut mengerang nikmat, karena kejantanannya kembali dibalut oleh otot anal Hangeng yag hangat.

Putra dari pengusaha terkaya di Brunei darusalam itu membantu sang kekasih untuk bergerak naik turun di pangkuannya. Hangeng mengangkat tubuhnya naik hingga kejantanan Wu Zun hanya tersisa kepalanya saja. Kemudian Wu Zun menarik tubuh Hangeng lagi, hingga kejantanannya melesak jauh ke dalam lubang si pemuda berjuluk Beijing friendrice.

“Agghhh!!! UUngngghh…” Desah Hankyung tertahan.

Wu Zun terus menggerakkan tangannya, membantu Hangeng bergerak naik-turun dengan tempo cepat. “Wo ai ni, Tan Han Geng… Hhh…. Wo Ai ni…” gumamnya tepat di telinga Hangeng, sambil terus menggerakkan tubuh sang kekasih naik-turun.

“Ha-aaghh…. Wu-wu Zunn…. Hhhh…”

Wiiingggg….

Daaarrrrrr!!!

Hangeng terkejut setengah mati, ternyata di langit malam kota Beijing, tepatnya di dekat langit hotel tempat mereka berdua berada, ada yang menyalakan kembang api!

“Uuunggg… Hhhh…” walaupun Hangeng mendesah, matanya tidak bisa berhenti menatap langit malam yang kini dihiasi oleh banyak kembang api dengan berbagai warna, tapi dirinya tentu juga tidak lupa dengan bagian selatan tubuhnya yang terasa makin panas dan menegang. “Wu Zunnn… Nggg… I wanna cum… please let me cum… Hhh… Ahkk…”

Wu Zun memaut bibir Hangeng, membawanya ke dalam ciuman yang dalam, “Cum for me, baby…”

“Ahhhkkk… Ahhh!!!!” Hangeng sedikit menjerit saat menyemprotkan cairan kenikmatannya di otot perut Wu Zun, sedangkan sang kekasih memasukkan benihnya di dalam tubuh Hangeng, membuat mereka berdua melebur menjadi satu kesatuan.

Napas Hangeng ternengah setelah orgasme, kepalanya bersandar pada pundak Wu Zun yang penuh peluh akibat dari setelah bercinta. Hangeng masih menatap kembang api yang terus melesat ke langit dan meledak seakan tidak ada habisnya.

“Kau menikmati pemandangan malam ini, Sweet heart?” ucap Wu Zun sambil membelai rambut Hangeng yang sedikit lengket karena peluh.

Hangeng tersenyum dan mengangguk, “Jangan bilang kalau kau yang menyiapkan semua ini…” ucapnya sambil mengecup pundak Wu Zun yang cukup berotot.

Wu Zun membalasnya dengan tawa kecil, seraya berkata, “Kau selalu bisa membaca pikiranku, ya?”

Hangeng mencium bibir Wu Zun singkat, membuat bibir halusnya sedikit bergesekan dengan milik Wu Zun, “Thanks…” ujarnya singkat.

“Happy one month anniverstary, Sweet heart…” ucap Wu Zun, kini giliran mengecup Hangeng lembut, dan membawa sang kekasih semakin dalam ke pelukannya. “Wo ai ni…” kali ini Wu Zun berharap Hangeng membalas perkataannya dengan ucapan yang sama.

Namun, Hangeng hanya terdiam dan menatapnya saja. Apakah Hangeng tidak mencintainya juga? Apakah hubungan selama sebulan ini yang mereka jalani hanya cinta searah dari Wu Zun saja? Pemuda mantan actor dari romantic princess itu mulai menitikkan air mata, membuat pandangannya kabur dan tidak jelas.

“Wo ai ni…”

Apa?

“Maaf?” tanya Wu Zun bingung.

Hangeng tersenyum, “ Wo ai ni, wo ai ni, wo ai ni…” ucap Hangeng berkali-kali. “Masih kurang?” lanjutnya dengan sedikit bercanda.

Wu Zun tertawa kecil, mengecup dahi pemuda yang dicintainya itu.

 

“Aku ingin mendengar kalimat itu darimu seumur hidup.”

.

.

FIN

.

.

Omake:

“Di mana Hangeng dan Wu Zun? Kenapa mereka belum juga datang?” tanya Si sutradara dan kru-kru lainnya pada Barbie Xu.

Wanita cantik itu Cuma tertawa tenang, “Mereka ada urusan lain yang ‘lebih penting’.” Ucapnya sambil meneguk anggur merah kesukaannya. ‘Semoga kamera perekam di kamar mereka berdua berkerja dengan baik…’ batinnya dalam hati.

.

.

.

Fin

.

Wuah, akhirnya selesai juga!! Hima malah bikin fic yadong lagi, crack pair pula…

Ide membuat ff ini dapet  dari waktu lihat film my kigdom-nya Hangeng. Di sana banyak banget hits yaoi Wu Zun X Hangeng! Akhirnya jadilah fic yadong+abal ini. Semoga nggak kecewa. BTW, Hima rasa NC di fic ini kurang hot, deh… *benturin kepala ke lappie*

Oke, sekian dari Hima~ sampai jumpa di fic berikutnya TOT)/

.

.

.

No Silent Reader!! >;D

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2012 in Oneshoot

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: